Negeri Berselimut Tirani


        Oleh : Abu Hanifah

Sebuah Opini Populer

 

Ironi, di tengah gegap gempita membangun 1001 mimpi, membuai rakyat dengan berbagai jargon yang membuncah hingga ke hati sanubari. Mulai dari pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, meningginya daya beli rakyat, berkurangnya angka pengangguran,terjaminnya demokrasi dan hak azasi, semakin terbukanya kesempatan kerja dalam negeri, tak perlu lagi susah-susah jadi TKI, mendorong keberagamaan dan relegiusitas masyarakat agar lebih berperan dan mewarnai negeri, memastikan akan memperlakukan orang kecil dengan prinsip kemanusian dan beradab, karena setiap rakyat adalah pemilik sah bangsa ini dan berhak mendapat perlakuan yang sama dan wajib dijaga harkat dan martabat kemanusiaanya.

Menjadikan budaya luhur bangsa ini sebagai tuan di rumahnya sendiri, berusaha semaksimal mungkin memproteksi budaya sekuler yang akan menghancurkan pranata sosial dan kultural, memastikan hukum tidak   pandang bulu, bukan belah bambu atau tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Berkomitmen terus mengurangi hutang luar negeri agar bangsa ini tidak bangkrut karena tidak mampu melunasi, dan berjanji menjaga aset potensial bahkan jika sudah ada yang terjual atau dikuasai asing maka akan dibeli dan kembalikan ke pangkuan ibu pertiwi.

Sayangnya semua itu masih sebatas mimpi, pemanis tidur dan menjadi misteri entah sampai kapan terealisasi dan rakyat negeri ini bisa menikmati. Pun dibulan keramat ini, di tengah semarak HUT ke-72 Kemerdekaan RI dari belenggu penjajahan dan para tirani yang berbilang abad, yang berlaku zalim dan menzalimi, akhirnya angkat kaki dari bumi pertiwi. Mereka pergi bukan karena puas menjajah atau simpati dengan perjuangan kita, lalu dengan senang hati menghadiahkan kemerdekaan pada bangsa ini, namun mereka pergi karena kalah dan tak mampu lagi menjajah. Para pejuang dan rakyat yang tak mengenal lelah, berkorban apa saja, harta, tenaga, fikiran, darah bahkan nyawa. Tak terbilang jumlah para pahlawan yang gugur di medan laga, tak terkira banyaknya para syahid dan syahidah menghembuskan napasnya di medan tempur. Hampir semua rakyat negeri ini bergerak berjuang, semua suku, agama, ras , golongan, rakyat kecil, penguasa, para raja, bersatu padu bergerak membela negeri. Merdeka atau mati.

Sejarah juga membuktikan para pejung Islam, Kyai, Alim ulama bersama umat dan santrinya. Raja-raja Islam di Nusantara dengan rakyat jelatanya, mereka berjuang membela dan memerdekakan negeri tercinta ini. Nasionalisme dan Islam menyatu dalam aliran darah mereka. Keinginan agar bebas dari penjajahan dan penindasan disamping panggilan jiwa sebagai anak bangsa sekaligus merupakan kewajiban agama yang harus dijalankan oleh umat, sehingga muncul resolusi jihad, syurga balasannya jika syahid di medan laga. Pekikan kemerdekan, merdeka atau mati, berpadu dengan pekikan Allahhu Akbar, lagu-lagu daerah dan kebangsaan yang membakar patriotisme dan nasionalisme berpadu dengan gema sholawat, dan syair Islami yang menggetarkan qalbu mereka, sehingga tidak ada kata menyerah, hanya ada 2 pilihan ‘Ish Kariman at Mut Syahiidan” hidup mulia atau mati sahid.

Mereka tidak sudi hidup terus dihina dan dalam kehinaan. Tidak mau terus menjadi budak dan diperbudak oleh bangsa penjajah, biarlah jasad berkecai ditelan bumi asalkan bunda pertiwi terbebas dari penjajah yang menzalimi. Kalaupun pada akhirnya mereka tidak menikmati kemuliaan hidup sebagai bangsa yang merdeka, azamnya sudah jelas jangan lagi penderitaan dan penghinaan sebagai bangsa yang terjajah terus menerus dirasakan oleh generasi berikutnya. Biarlah pedih dan derita cukup mereka saja yang merasakan. Dan pada akhirnya perjuangan ikhlas itulah yang kita nikmati hingga hari ini dalam wujud merdeka dan kemerdekaan.

BACA JUGA  Ciptakan Ketahanan Pangan, Anggota Koramil 04 / Letung Bersama Kelompok Tani Tunas Karya Tanam Padi Secara Massal.

Di tengah pertaruhan jiwa raga, harta dan fikiran agar bangsa ini merdeka dari para penjajah laknatullah, sejarah juga mencatat dengan sangat jelas, bahwa tetap ada penghianat dan pecundang, mengabdi pada penjajah dengan iming materi serta jabatan. Karena harta dan jabatan sudah menjadi tuhannya, mereka sanggup mengorbankan nyawa saudara sebangsa dan bahkan seagama. Mereka berfikir bisa hidup abadi dengan jabatan dan harta, padahal akhirnya musnah dimakan zaman, tertimbun dalam lubang bangkai dan hina dina dunia akherat. Itulah balasan setimpal untuk para penghianat, orang-orang munafik yang ketika berkumpul dengan para pejuang mereka menyatakan dibarisan terdepan bersama pejuang namun ketika berkubang dengan para penjajah mereka berpaling tadah dan menjadi penghianat.

Jiwa para penghianat sebetulnya lebih kejam dan busuk dari penjajah itu sendiri karena mereka mau mengorbankan saudaranya sendiri demi kepuasan dan kenyaman pribadi dan kelompoknya. Sejarah juga mencatat, para penjajah sangat mahir memainkan politik pecah belah, adu domba, rekayasa dan fitnah sehingga sesama pejuang terjadi silang sengketa, sesama Islam terjadi pertikaian, sesama kerajaan terjadi pertumpahan darah.Karena terpecah kita jadi lemah, karena lemah mudahlah mereka menjajah.

Kini setelah 72 tahun merdeka dari tirani dan bangsa para penjajah, cita-cita luhur dan mimpi besar para pejuang kemerdekaan dan para Faunding Fahters masih belum terpenuhi sepenuhnya bahkan dari waktu ke waktu mimpi besar bersama terhadap negeri ini dengan kenyataan yang dihadapi semakin berjarak, jauh panggang dari api. Kita memang sudah 72 tahun merdeka dari para penjajah, namun kini bermunculan para tiran yang mencegkram dan menjalar liar dengan kekuatan yang dahsyat, aktivitasnya terkadang kasat mata namun dilain waktu nampak vulgar, arogan dan serakah.

Tirani kekuasaan mulai mengancam negeri dan menampakkan wajahnya dalam berbagai bentuk dan cita rasa, absolutisme kembali dipergunjingkan yang pada dasarnya berisi kekhawatiran dan kecemasan yang cukup rasional, karena alasan apapun juga diktatorian dan absolutisme tidak akan pernah membawa kedamaian dan kebahagian, justru sebaliknya membawa petaka.

Tirani kapitalis jelas terlihat, dimana ada segelintir kekayaan warga negara sebanding dengan separuh kekayaan penduduk negeri dan bisa kita bisa bayangkan satu pemodal di negeri ini bisa memiliki jutaan hektar lahan,  sementara jutaan warga negara yang tidak memiliki lahan bahkan sampai tidak memiliki lahan seukuran kuburannya sendiri. Tirani kapitalis terus menguasai dan mencengkram ekonomi, sehingga dengan penumpukan Kapital yang tidak terbatas mereka bisa mengatur dan mendominasi berbagai kepentingan dan hajat hidup rakyat, sehingga memunculkan tingkat ketergantungan yang sangat tinggi. Semakin dalamnya jurang kesenjangan antara para kapital dan kelompok The Have dengan rakyat kecil, semakin tingginya angka pengangguran dan semakin lemahnya daya beli masyarakat merupakan indikator berkuasanya para tiran kapitalis, dengan prinsip kapitalis rakyat dimiskinkan secara sistematis. Bangsa ini dipaksa untuk mengimpor berbagai produk kebutuhan pokok, padahal katanya kita kaya raya, sumber daya alamnya melimpah ruah. Alangkah lucunya negeri ini yang dialiri air laut terbanyak di dunia namun langka garamnya.

Tirani minoritas adalah fenomena serius lainnya. Ada indikasi sebagian masyarakat merasa paling benar dan paling berhak hidup di negeri ini, merasa menjadi warga kelas 1,  sementara kelompok lain dianggap kurang pantas meskipun jumlahnya mayoritas. Kelompok minoritas ini harus diakui menguasai dalam berbagai sektor kehidupan, khususnya dalam bidang ekonomi namun bukan berarti punya kewenangan untuk menentukan kelas dan status warga negara lainnya. Selagi kita mau hidup di bumi pertiwi ini,  maka seharusnya kita saling menghargai, berbagi dan bersatu padu tidak membedakan kelas, suku, agama dan antar golongan. Inilah yang akan mengikat kita menjadi sebuah bangsa yang maju dan besar dengan berbagai macam dinamika rakyatnya.

BACA JUGA  Permintaan KPK, Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan Dicegah ke Luar Negeri

Namun demikian bukan berarti kelompok lainnya diberikan peluang untuk melahirkan otoritarianisme mayoritas karena sama-sama berbahaya dan dinyakini berpotensi merusak masa depan bangsa. Seyogyanya kelompok minoritas maupun mayoritas harus mampu bergandengan tangan dan bahu-membahu mengikat tali persatuan dan persaudaraan dan mengisi ruang kemerdekaan yang pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Jangan pernah diciptakan atau diberikan celah untuk lahirnya para penghianat, kelompok-kelompok munafik yang akan merongrong dan menjeremuskan bangsa ini sebagaimana para penghianat yang telah mencabik-cabik upaya Perjuangan Kemerdekaan Republik ini.

Negeri ini harus jujur dengan sejarah, peran umat Islam sebagai kelompok mayoritas dan bagian dari pemilik sah negeri ini, yang sudah menyerahkan jiwa raganya, dengan tulus ikhlas berjuang sampai titik darah penghabisan demi NKRI. Jangan ragukan cinta, patriotisme dan nasionalismenya, sehingga mencoba memisahkan Islam dari negeri ini.  Jika itu dilakukan, sama juga dengan mengingkari kemerdekaan yang kita rayakan dibulan penuh gairah ini.

Sisi lainnya memelihara dan membiarkan tirani terus menjalar dan mengakar di bumi pertiwi, sama halnya dengan mengingkari semangat, cita-cita dan tujuan mulia perjuangan kemerdekaan, karena para pahlawan berjuang dari penjajah hakekatnya adalah berjuang agar bangsa ini terlepas dari tirani kekuasaan yang setiap waktu mencabik dan membunuh anak negeri, menggunakan kekuatan absolutnya untuk membungkam, memenjarakan, dan menzalimi. Para pejuang berkorban menyerahkan jiwa raganya untuk membebaskan negeri ini, hakekatnya mereka tidak mau negeri kita dikuasai oleh para kapitalis yang menjajah, merampok dan menjarah sehingga kita dibuat miskin dan mati kelaparan di negeri sendiri.  Para pejuang tak gentar maju di medan laga, hakekatnya mereka ingin memerdekakan bangsa kita dari budaya dan tradisi penjajah yang pasti bertentangan dengan tardisi dan budaya luhur bangsa ini.

Oleh karena itu aneh rasanya dalam mengisi ritual suci kemerdekaan sampai ada ide menghadirkan parade aksi memuakkan produk budaya sekuler, dan akhirnya para Alim Ulama serta umat Islam terpanggil berjuang dengan semangat jihad, hakekatnya adalah mereka menyakini bangsa ini juga milik umat, setiap jengkal tanahnya haram diinjak oleh para penjajah bahkan mencintai negeri ini merupakan bagian dari doktrin dan manifestasi keimanan. Gagal paham rasanya jika masih ada anak bangsa atau para penguasa yang ingin memisahkan, membatasi bahkan mendekonstruksi nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dibumi tercinta ini.

Sudahlah, sadarlah, hari semakin terang, mari kita bangun dari tidur yang melenakan, buka selimut, curahkan seluruh energi dan kemampuan kita untuk berbuat yang terbaik bagi negeri ini dan berusaha semampu kita agar tirani-tirani tidak terus menguasai. Jikapun masih ada, tidak lebih dari mimpi buruk yang segera berakhir bersamaan dengan datangnya sang mentari.

Dirgahayu Indonesiaku ke-72
Allahu Akbar. Merdeka

 

Abu Hanifah, 6 Agustus 2017




Bagikan Artikel ini


Terhubung dengan kami